Jumat, 10 November 2017

Hubungan Plankton dan Perifiton

MAKALAH
HUBUNGAN PLANKTON DAN PERIFITON





DISUSUN OLEH
HUSNA ANISA (160254242016)



Manajemen Sumberdaya Perairan
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan
Universitas Maritim Raja Ali Haji
2017



KATA PENGANTAR

            Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Hubungan Plankton dan Perifiton”   Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Hubungan Plankton dan Perifiton ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Tanjungpinang, 10 November 2017

Penyusun 


Daftar Isi
Kata Pengantar..............................................................................................................................
Daftar Isi.......................................................................................................................................
Bab I Pendahuluan........................................................................................................................
1.      Latar Belakang..................................................................................................................
2.      Rumusan Masalah.............................................................................................................
3.      Tujuan...............................................................................................................................
Bab II Pembahasan.......................................................................................................................
1.      Plankton............................................................................................................................
1.1.Fitoplankton................................................................................................................
1.2.Zooplankton................................................................................................................
2.      Perifiton............................................................................................................................
2.1.Terminologi.................................................................................................................
2.2.Struktur komunitas perifiton.......................................................................................
2.3.Eksistensi komunitas perifiton....................................................................................
3.      Hubungan Plankton dan Perifiton....................................................................................
3.1.Sebagai oksigen terlarut..............................................................................................
3.2.Komunitas perifiton dan fitoplankton…………………………………………….  ..
Bab III Penutup............................................................................................................................
Kesimpulan...................................................................................................................................
Daftar Pustaka..............................................................................................................................


  
BAB I PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Plankton dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan cara makan, keberadaan/dominansi/sebarant, asal usul, ukuran, bentuk dan koloni sel, serta alat penangkap. Pengelompokkan plankton yang paling umum didasarkan pada cara makannya. Berdasarkan cara makannya, plankton dapat dikelompokkan ke dalam bakterioplankton (saproplankton), fitoplankton, dan zooplankton. Bakterioplankton atau saproplankton merupakan kelompok plankter yang terdiri atas organisme yang tidak berklorofil, meliputi bakteri (Micrococcus, Sarcina, Vibrio, Bacillus, dll) dan fungi.
Fitoplankton merupakan tumbuhan planktonik berklorofil yang umumnya terdiri atas Bacillariphyceae, Chlorophyceae, Dinophyceae, dan Haptophyceae. Selain berkhlorofil, fitoplankton juga memiliki bahan makanan cadangan yang umumnya berupa pati atau lemak, diding sel yang tersusun dari selulosa, serta bentuk flagel yang beragam,. Zooplankton merupakan kelompok plankter yang mempunyai cara makan holozoik. Anggota kelompok ini meliputi hewan-hewan dari kelompok Protozoa, Coelenterata, Ctenophora, Chaetognatha, Annelina, Arthropoda, Urochordata, Mollusca, dan beberapa larva hewan-hewan vertebrata. Kelompok zooplankton hampir seluruhnya didominasi oleh Copepoda dengan nilai sebesar 50--80%. Zooplankton dalam ekosistem perairan memiliki peran yang penting karena zooplankton merupakan konsumen pertama fitoplankton yang mempunyai peran untuk memindahkan energi dari produsen primer yaitu fitoplankton ke tingkat konsumen yang lebih tinggi lagi seperti larva ikan, dan ikan-ikan kecil. Zooplankton merupakan salah satu organisme yang rentan terhadap kondisi perubahan lingkungan. Ketika jumlah zooplankton minim, kelimpahan konsumennya seperti larva ikan, dan ikan-ikan kecil akan mengalami penurunan. Keanekaragaman jenis zooplankton akan berubah sebagai respons terhadap perubahan kondisi lingkungan baik faktor fisika, kimia, maupun biologi. Faktor penunjang pertumbuhan dan perkembangan bagi zooplankton dalam perairan sangat kompleks dan saling berinteraksi antara faktor abiotik 3 perairan yang satu dengan yang lainnya, seperti intensitas cahaya, suhu, CO2 bebas, oksigen terlarut, pH dan zat terlarut dengan faktor biotik perairan seperti adanya aktivitas pemangsaan oleh hewan, mortalitas alami, dan dekomposisi. Beberapa organisme mampu hidup di perairan dengan kondisi tercemar. Pada beberapa spesies ikan, alga maupun fitoplankton dan zooplankton mempunyai nilai toleransi terhadap pencemaran. Beberapa jenis zooplankton yang tidak toleran terhadap pencemaran akan terdistribusi di zona yang lebih mendukung. (Wijaya, 2009)
Perifiton merupakan aufwuchs yaitu sekelompok organisme (umumnya mikroskopis) yang hidup menempel pada benda atau pada permukaan tumbuhan air yang terendam; tidak menembus subtrat; diam atau bergerak dipermukaan subtrat tersebut. Sementara itu Weitzel (1979) menyatakan bahwa istilah aufwuchs dipergunakan secara umum untuk seluruh organisme yang berasosiasi dengan permukaan padat tetapi tidak sampai menembus subtrat tersebut. Komunitas perifiton umumnya terdiri dari alga mikroskopis yang menempel, baik satu sel maupun alga benang terutama dari jenis diatom, jenis alga Conjugales, Cyanophyceae, Euglena-phyceae, Xanthophyceae dan Chryssophyceae. Keberadaan perifiton dalam satu perairan dengan perairan lainnya tidaklah sama. Beberapa faktor yang mempengaruhi keadaan perifiton dalam suatu perairan adalah kondisi fisik, kimiawi, dan biologi perairan. Perifiton pun memiliki batasan toleransi tertentu terhadap beberapa parameter lingkungan perairan. Perbedaan tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kolonisasi perifiton (Arfiati, 1989). Pada sisi lainnya, perifiton berperan sebagai produsen primer dalam suatu perairan untuk menghasilkan oksigen dan menjadi konsumsi bagi organisme lain, misalnya karang. (Perairan & Panjang, 2015)

2.      Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan plankton?
2.      Apa itu fitoplankton dan zooplankton?
3.      Apa yang di maksud dengan perifiton?
4.      Apa hubungan plankton dan perifiton?

3.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa itu plankon
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan fitoplankton dan zooplankton
3.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan perifiton
4.      Untuk mengetahui hubungan plankton dan perifiton



BAB II PEMBAHASAN
1.      Plankton
Plankton merupakan sekelompok biota akuatik baik berupa tumbuhan maupun hewan yang hidup melayang maupun terapung secara pasif di permukaan perairan, dan pergerakan serta penyebarannya dipengaruhi oleh gerakan arus walaupun sangat lemah (Sumich, 1992; Nybakken, 1993; Arinardi, 1997). Menurut Sumich (1999), plankton dapat dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu fitoplankton (plankton nabati) dan zooplankton (plankton hewani).(Wijaya, 2009)

1.1.Fitoplankton
Fitoplankton adalah organisme yang hidup melayang-layang di dalam air, relatif tidak memiliki daya gerak, sehingga eksistensinya sangat dipengaruhi oleh gerakan air seperti arus, dan lain-lain (Odum 1971). Menurut Reynolds (1984), fitoplankton yang hidup di air tawar terdiri dari tujuh kelompok besar filum, yaitu: Cyanophyta (alga biru), Cryptophyta, Chlorophyta (alga hijau), Chrysophyta, Pyrrhophyta (dinoflagellates), Raphydophyta, dan Euglenophyta. Setiap jenis fitoplankton yang berbeda dalam kelompok filum tersebut mempunyai respon yang berbeda-beda terhadap kondisi perairan, sehingga komposisi jenis fitoplankton bervariasi dari satu tempat ke tempat lain (Welch 1952). Menurut Welch (1952), plankton air tawar dibedakan menjadi limnoplankton dan rheoplankton. Limnoplankton adalah plankton yang hidup di perairan tergenang, sedangkan rheoplankton adalah plankton yang hidup di perairan mengalir. Keberadaan plankton di perairan mengalir dipengaruhi oleh lingkungan sungai yang seringkali komposisinya berubah yang berkaitan dengan pergerakan air, kekeruhan, suhu, dan nutrien (Hynes 1972). Perkembangan komunitas fitoplankton sungai dipengaruhi oleh turbulensi aliran dan turbiditas yang berkaitan dengan partikel tersuspensi (Belcher dan Swale 1979 in Reynolds 1984). Welch (1952) mengungkapkan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi distribusi kelimpahan fitoplankton dalam suatu perairan adalah arus, kandungan unsur hara, predator, suhu, kecerahan, kekeruhan, pH, gas-gas terlarut, maupun kompetitor.(Wijaya, 2009)
1.2.Zooplankton
Zooplankton merupakan plankton hewani, meskipun terbatas namun mempunyai kemampuan bergerak dengan cara berenang (migrasi vertikal). Pada siang hari zooplankton bermigrasi ke bawah menuju dasar perairan. Migrasi dapat disebabkan karena faktor konsumen atau grazing, yaitu dimana zooplankton mendekati fitoplankton sebagai mangsa, selain itu migrasi juga terjadi karena pengaruh gerakan angin yang menyebabkan upwelling atau downwelling (Sumich, 1999).



2.      Perifiton
2.1. Terminologi
 Istilah perifiton meskipun digunakan secara bervariasi, namun lebih ditujukan kepada flora yang tumbuh di atas substrat di perairan. Menurut Hill dan Webster (1982), perifiton adalah mikroalgae menempel yang umumnya merupakan sumber energi utama di perairan, sangat melimpah dan memiliki peranan yang lebih besar dalam menentukan produktivitas primer dibanding fitoplankton. Round in Wood (1967) menggunakan istilah perifiton untuk algae yang tumbuh di permukaan substrat buatan (bewuch) atau substrat alami (aufwuch). Dalam penelitian ini digunakan istilah perifiton menurut Sheppard et al. (1992), yaitu perifiton merupakan algae mikroskopis yang hidup menempel pada daun lamun. Berdasarkan tipe substrat tempat menempelnya perifiton, Wetzel (1982) mengklasifikasikan sebagai berikut:
            1) Epifitik, menempel pada permukaan tumbuhan,
            2) Epipelik, menempel pada permukaan sedimen,
            3) Epilitik, menempel pada permukaan batuan,
            4) Epizooik, menempel pada permukaan hewan,
            5) Epipsammik, hidup dan bergerak diantara butir-butir pasir.

2.2.Struktur komunitas perifiton
Struktur komunitas meliputi keanekaragaman jenis, keseragaman, kelimpahan, struktur dan bentuk pertumbuhan, dominansi dan struktur trofik (Krebs, 1972). Keanekaragaman menunjukkan keberadaan suatu spesies dalam suatu komunitas di ekosistem. Semakin tinggi keanekaragaman spesies di suatu komunitas menunjukkan adanya keseimbangan dalam ekosistem tersebut. Keanekaragaman dipengaruhi oleh adanya predator dan kemampuan mempertahankan diri dari perubahan kondisi lingkungan. Keseragaman menunjukkan komposisi individu dari spesies yang terdapat dalam suatu komunitas, dimana akan terjadi dominasi spesies dalam suatu komunitas bila keseragaman mendekati minimum dan sebaliknya suatu komunitas akan relatif mantap apabila keseragaman mendekati maksimum (Brower et al., 1990). Dominansi menunjukkan ada tidaknya suatu jenis individu yang mendominasi dalam suatu komunitas, dimana jenis yang mendominasi cenderung mengendalikan komunitas (Simpson, 1984 in Krebs, 1972). Secara umum struktur komunitas perifiton terdiri dari algae mikroskopis yang bersifat sessil, satu sel maupun algae filamen terutama jenis Diatomae, Algae Conjugales, Cyanophyceae, Euglenophyceae, Xanthophyceae dan Crysophyceae (Kitting, 1984 in Borowitzka dan Lethbridge, 1989 in Zulkifli, 2000). Struktur komunitas perifiton dari setiap perairan sangat beragam, namun perifiton yang tumbuh pada berbagai jenis makrofita di suatu perairan dapat seragam (Prygiel dan Coste, 1993).


2.3.Eksistensi komunitas perifiton
Perkembangan perifiton menuju kemantapan komunitasnya sangat ditentukan oleh kemantapan keberadaan substrat. Substrat dari benda hidup sering bersifat sementara karena adanya proses pertumbuhan dan kematian. Setiap saat pada substrat hidup akan terjadi perubahan lingkungan sebagai akibat dari respirasi dan asimilasi, sehingga mempengaruhi komunitas perifiton. Biomassa perifiton yang terbentuk merupakan sumber makanan alami biota air yang lebih tinggi yaitu zooplankton, juvenil udang, moluska dan ikan (Klumpp et al.,1992 in Zulkifli, 2000). Perkembangan perifiton dapat dipandang sebagai proses akumulasi, yaitu proses peningkatan biomassa dengan bertambahnya waktu. Akumulasi merupakan hasil kolonialisasi dengan proses biologi yang menyertainya dan berinteraksi dengan faktor fisika-kimia perairan (Borowitzka dan Lethbridge, 1989 in Zulkifli, 2000). Menurut Osborn (1983), proses kolonialisasi merupakan pembentukan koloni perifiton pada substrat yang berlangsung segera seketika pengkoloni menempel pada substrat. Tipe substrat sangat menentukan proses kolonialisasi dan komposisi perifiton, hal ini berkaitan erat dengan kemampuan dan alat penempelnya. Kemampuan perifiton menempel pada substrat menentukan eksistensinya terhadap pencucian oleh arus atau gelombang yang dapat memusnahkannya. Untuk menempel pada substrat, perifiton mempunyai berbagai alat penempel, yaitu:
            1) Rhizoid, seperti pada Oedogonium dan Ulothrix,
2) Tangkai bergelatin panjang atau pendek, seperti pada Cymbella, Gomphonema dan Achnanthes,
3) Bantalan gelatin berbentuk setengah bulatan (sphaerical) yang diperkuat dengan kapur atau tidak, seperti pada Rivularia, Chaetophora dan Ophyrydium.
Komposisi perifiton pada daun lamun sangat dipengaruhi oleh morfologi, umur dan letak atau tempat hidup lamunnya. Lamun dengan tipe daun yang besar akan lebih disukai daripada lamun yang mempunyai daun lebih kecil, karena lamun dengan morfologi yang lebih besar (kuat) akan mempunyai kondisi substrat yang lebih stabil. Begitu pula dengan umur lamun, pada lamun yang lebih tua komposisi dan kepadatan perifiton akan berbeda dengan lamun yang lebih muda karena proses penempelan dan pembentukan koloni perifiton memerlukan waktu yang cukup lama.(Lamun, Perairan, Besar, Seribu, & Utara, 2008)


3.      Hubungan Plankton dan Perifiton
3.1.Sebagai Oksigen terlarut
sumbangan oksigen terlarut di perairan mengalir dapat berasal dari fotosintesis perifiton dan fitoplankton. Besarnya sumbangan oksigen terlarut yang berasal dari fotosintesis dipengaruhi oleh besarnya intensitas cahaya yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis. Selain itu, banyaknya kelimpahan jenis juga mempengaruhi besarnya oksigen terlarut yang dihasilkan dalam proses fotosintesis. Oksigen  yang dihasilkan dari perifiton, fitoplankton, dan difusi udara tersebut memberikan sumbangan oksigen terlarut berbeda ke perairan. Besarnya sumbangan oksigen terlarut tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya kecepatan arus, kedalaman, sinar matahari, suhu, dan nutrien yang menentukan kelangsungan hidup bagi organisme autotrof yang tinggal disana. Sumbangan oksigen terlarut tersebut juga memberikan proporsi yang berbeda dari masingmasing penyumbang oksigen tersebut pada volume 430L.(Lamun et al., 2008)

3.2.Komunitas Perifiton dan Fitoplankton
Pryfogle dan Lowe (1979) in Weitzel (1979) mengemukakan bahwa asosiasi antara fitoplankton dengan sistem perairan mengalir sering menggambarkan komunitas alga perifitik. Komunitas perifiton maupun fitoplankton merupakan variabel penting dalam ekosistem mengalir (Weitzel 1979). Organisme tersebut berperan sebagai organisme ototrof yang mampu berfotosintesis dengan memanfaatkan senyawa anorganik menjadi bahan organik serta sebagai penghasil oksigen. Selain itu, perifiton dan fitoplankton merupakan makanan bagi ikan herbivor dan bentos sehingga ketersediaannya berpengaruh bagi komunitas pada tingkat trofik di atasnya. Keberadaannya di lingkungan perairan berkaitan dengan alam atau habitat, faktor pembatas seperti cahaya, nutrien, grazing, dan substrat (Weitzel 1979).
Menurut Hynes (1972), pada sungai-sungai tenang atau berarus lambat terdapat mikroorgaisme yang melayang seperti fitoplankton. Kemampuan fitoplankton untuk bertahan pada sungai yang tenang tersebut dipengaruhi oleh kondisi lokal, musim hujan, dan kejadian banjir. Di daerah tropis, komposisi plankton bervariasi antara musim hujan dan musim kemarau (Holden dan Green 1960 in Hynes 1972). Komunitas plankton asli diduga terbentuk pada periode air rendah, karena pada perairan sungai sering terjadi proses pencucian organisme yang disebabkan oleh berbagai sumber seperti jumlah debit air yang juga dipengaruhi oleh curah hujan. Hynes (1972) menambahkan bahwa komunitas alga bentik (perifiton) alami memiliki sifat tidak stabil, karena proses pembentukan komunitas di dalamnya terjadi pada waktu yang tidak sama. Pada skala waktu pengamatan tertentu, akan didapatkan perbedaan kelimpahan dan komposisi plankton seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan sekitarnya. Pada perairan mengalir dengan kecepatan arus cukup besar, plankton tidak melimpah. Sebagai konsekuensi, hampir semua produktivitas primer berasal dari perifiton. Hal tersebut salah satunya dipengaruhi oleh kandungan nutrien di perairan sehingga keberadaan jenis di setiap sungai akan berbeda (Welch 1980).
Pada perairan sungai yang memiliki dukungan nutrien silika yang cukup memadai, keberadaan kelompok Bacillariophyceae sering mendominasi dengan kelimpahan sangat besar, kecuali pada sungai berlumpur. Nutrien silica merupakan salah satu unsur yang sangat dibutuhkan oleh diatom (Bacillariophyceae). Bagi diatom, silika merupakan pembentuk dinding sel dan dapat mencapai setengah dari berat kering alga tersebut. Keberadaan silika di sungai dapat berasal dari hancuran batuan, aliran sungai, dan sedimen (Goldman dan Horne 1983). Hal lain yang merupakan penyebab terjadinya perbedaan komposisi dan kelimpahan perifiton dan fitoplankton adalah curah hujan. Tingginya curah hujan dapat mengakibatkan meningkatnya debit air, sehingga air sungai mengalami pengenceran yang lebih besar mengakibatkan jumlah jenis dan kelimpahan fitoplankton berkurang karena hanyut terbawa arus sungai. Tingginya curah hujan juga secara tidak langsung dapat memungkinkan terjadinya peningkatan nilai kekeruhan dan menurunkan nilai pH. Kekeruhan yang lebih tinggi dan pH yang menurun di bawah kisaran optimal mengakibatkan produksi fitoplankton menurun (Supartiwi 2000).(Wijaya, 2009)





BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Plankton merupakan sekelompok biota akuatik baik berupa tumbuhan maupun hewan yang hidup melayang maupun terapung secara pasif di permukaan perairan, dan pergerakan serta penyebarannya dipengaruhi oleh gerakan arus walaupun sangat lemah. Fitoplankton adalah organisme yang hidup melayang-layang di dalam air, relatif tidak memiliki daya gerak, sehingga eksistensinya sangat dipengaruhi oleh gerakan air seperti arus, dan lain-lain (Odum 1971). Menurut Reynolds (1984), fitoplankton yang hidup di air tawar terdiri dari tujuh kelompok besar filum, yaitu: Cyanophyta (alga biru), Cryptophyta, Chlorophyta (alga hijau), Chrysophyta, Pyrrhophyta (dinoflagellates), Raphydophyta, dan Euglenophyta. Sedangkan Istilah perifiton meskipun digunakan secara bervariasi, namun lebih ditujukan kepada flora yang tumbuh di atas substrat di perairan. Menurut Hill dan Webster (1982), perifiton adalah mikroalgae menempel yang umumnya merupakan sumber energi utama di perairan, sangat melimpah dan memiliki peranan yang lebih besar dalam menentukan produktivitas primer dibanding fitoplankton. Hubungan fioplankton dan perifiton Sebagai Oksigen terlarut dan komunitas perifiton dan fitoplankton.sumbangan oksigen terlarut di perairan mengalir dapat berasal dari fotosintesis perifiton dan fitoplankton. Besarnya sumbangan oksigen terlarut yang berasal dari fotosintesis dipengaruhi oleh besarnya intensitas cahaya yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis. Selain itu, banyaknya kelimpahan jenis juga mempengaruhi besarnya oksigen terlarut yang dihasilkan dalam proses fotosintesis. Pryfogle dan Lowe (1979) in Weitzel (1979) mengemukakan bahwa asosiasi antara fitoplankton dengan sistem perairan mengalir sering menggambarkan komunitas alga perifitik. Komunitas perifiton maupun fitoplankton merupakan variabel penting dalam ekosistem mengalir (Weitzel 1979).










DAFTAR PUSTAKA
Lamun, P., Perairan, D. I., Besar, T., Seribu, K., & Utara, J. (2008). SEBARAN DAN ASOSIASI PERIFITON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN ( Enhalus acoroides ) DI PERAIRAN PULAU TIDUNG BESAR , KEPULAUAN SERIBU , JAKARTA UTARA.

Perairan, D. I., & Panjang, P. (2015). http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/maquares, 4, 99–108.

Wijaya, H. K. (2009). Komunitas Perifiton Dan Fitoplankton Serta Parameter Fisika-Kimia Perairan Sebagai Penentu Kualitas Air Di Bagian Hulu Sungai Cisadane , Jawa Barat, 14–20.