MAKALAH
HUBUNGAN
PLANKTON DAN PERIFITON

DISUSUN
OLEH
HUSNA
ANISA (160254242016)
Manajemen
Sumberdaya Perairan
Fakultas
Ilmu Kelautan dan Perikanan
Universitas
Maritim Raja Ali Haji
2017
KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut
nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan
puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Hubungan
Plankton dan Perifiton” Makalah ini telah kami susun dengan
maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari
sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun
tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala
saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang
Hubungan Plankton dan Perifiton ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi
terhadap pembaca.
Tanjungpinang, 10 November 2017
Penyusun
Daftar
Isi
Kata
Pengantar..............................................................................................................................
Daftar
Isi.......................................................................................................................................
Bab
I Pendahuluan........................................................................................................................
1. Latar
Belakang..................................................................................................................
2. Rumusan
Masalah.............................................................................................................
3. Tujuan...............................................................................................................................
Bab
II Pembahasan.......................................................................................................................
1. Plankton............................................................................................................................
1.1.Fitoplankton................................................................................................................
1.2.Zooplankton................................................................................................................
2. Perifiton............................................................................................................................
2.1.Terminologi.................................................................................................................
2.2.Struktur komunitas
perifiton.......................................................................................
2.3.Eksistensi
komunitas perifiton....................................................................................
3. Hubungan
Plankton dan Perifiton....................................................................................
3.1.Sebagai oksigen
terlarut..............................................................................................
3.2.Komunitas
perifiton dan fitoplankton……………………………………………. ..
Bab
III Penutup............................................................................................................................
Kesimpulan...................................................................................................................................
Daftar
Pustaka..............................................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Plankton
dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan cara makan,
keberadaan/dominansi/sebarant, asal usul, ukuran, bentuk dan koloni sel, serta
alat penangkap. Pengelompokkan plankton yang paling umum didasarkan pada cara
makannya. Berdasarkan cara makannya, plankton dapat dikelompokkan ke dalam bakterioplankton
(saproplankton), fitoplankton, dan zooplankton. Bakterioplankton atau
saproplankton merupakan kelompok plankter yang terdiri atas organisme yang
tidak berklorofil, meliputi bakteri (Micrococcus, Sarcina, Vibrio, Bacillus,
dll) dan fungi.
Fitoplankton
merupakan tumbuhan planktonik berklorofil yang umumnya terdiri atas
Bacillariphyceae, Chlorophyceae, Dinophyceae, dan Haptophyceae. Selain
berkhlorofil, fitoplankton juga memiliki bahan makanan cadangan yang umumnya
berupa pati atau lemak, diding sel yang tersusun dari selulosa, serta bentuk
flagel yang beragam,. Zooplankton merupakan kelompok plankter yang mempunyai
cara makan holozoik. Anggota kelompok ini meliputi hewan-hewan dari kelompok
Protozoa, Coelenterata, Ctenophora, Chaetognatha, Annelina, Arthropoda,
Urochordata, Mollusca, dan beberapa larva hewan-hewan vertebrata. Kelompok
zooplankton hampir seluruhnya didominasi oleh Copepoda dengan nilai sebesar
50--80%. Zooplankton dalam ekosistem perairan memiliki peran yang penting
karena zooplankton merupakan konsumen pertama fitoplankton yang mempunyai peran
untuk memindahkan energi dari produsen primer yaitu fitoplankton ke tingkat
konsumen yang lebih tinggi lagi seperti larva ikan, dan ikan-ikan kecil.
Zooplankton merupakan salah satu organisme yang rentan terhadap kondisi
perubahan lingkungan. Ketika jumlah zooplankton minim, kelimpahan konsumennya
seperti larva ikan, dan ikan-ikan kecil akan mengalami penurunan.
Keanekaragaman jenis zooplankton akan berubah sebagai respons terhadap
perubahan kondisi lingkungan baik faktor fisika, kimia, maupun biologi. Faktor
penunjang pertumbuhan dan perkembangan bagi zooplankton dalam perairan sangat
kompleks dan saling berinteraksi antara faktor abiotik 3 perairan yang satu dengan
yang lainnya, seperti intensitas cahaya, suhu, CO2 bebas, oksigen terlarut, pH
dan zat terlarut dengan faktor biotik perairan seperti adanya aktivitas
pemangsaan oleh hewan, mortalitas alami, dan dekomposisi. Beberapa organisme
mampu hidup di perairan dengan kondisi tercemar. Pada beberapa spesies ikan,
alga maupun fitoplankton dan zooplankton mempunyai nilai toleransi terhadap
pencemaran. Beberapa jenis zooplankton yang tidak toleran terhadap pencemaran
akan terdistribusi di zona yang lebih mendukung. (Wijaya, 2009)
Perifiton
merupakan aufwuchs yaitu sekelompok organisme (umumnya mikroskopis) yang hidup
menempel pada benda atau pada permukaan tumbuhan air yang terendam; tidak
menembus subtrat; diam atau bergerak dipermukaan subtrat tersebut. Sementara
itu Weitzel (1979) menyatakan bahwa istilah aufwuchs dipergunakan secara umum
untuk seluruh organisme yang berasosiasi dengan permukaan padat tetapi tidak
sampai menembus subtrat tersebut. Komunitas perifiton umumnya terdiri dari alga
mikroskopis yang menempel, baik satu sel maupun alga benang terutama dari jenis
diatom, jenis alga Conjugales, Cyanophyceae, Euglena-phyceae, Xanthophyceae dan
Chryssophyceae. Keberadaan perifiton dalam satu perairan dengan perairan
lainnya tidaklah sama. Beberapa faktor yang mempengaruhi keadaan perifiton
dalam suatu perairan adalah kondisi fisik, kimiawi, dan biologi perairan. Perifiton
pun memiliki batasan toleransi tertentu terhadap beberapa parameter lingkungan
perairan. Perbedaan tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan
kolonisasi perifiton (Arfiati, 1989). Pada sisi lainnya, perifiton berperan
sebagai produsen primer dalam suatu perairan untuk menghasilkan oksigen dan
menjadi konsumsi bagi organisme lain, misalnya karang. (Perairan & Panjang, 2015)
2. Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan plankton?
2. Apa
itu fitoplankton dan zooplankton?
3. Apa
yang di maksud dengan perifiton?
4. Apa
hubungan plankton dan perifiton?
3. Tujuan
1. Untuk
mengetahui apa itu plankon
2. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan fitoplankton dan zooplankton
3. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan perifiton
4. Untuk
mengetahui hubungan plankton dan perifiton
BAB
II PEMBAHASAN
1. Plankton
Plankton
merupakan sekelompok biota akuatik baik berupa tumbuhan maupun hewan yang hidup
melayang maupun terapung secara pasif di permukaan perairan, dan pergerakan serta
penyebarannya dipengaruhi oleh gerakan arus walaupun sangat lemah (Sumich,
1992; Nybakken, 1993; Arinardi, 1997). Menurut Sumich (1999), plankton dapat
dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu fitoplankton (plankton nabati) dan
zooplankton (plankton hewani).(Wijaya, 2009)
1.1.Fitoplankton
Fitoplankton adalah
organisme yang hidup melayang-layang di dalam air, relatif tidak memiliki daya
gerak, sehingga eksistensinya sangat dipengaruhi oleh gerakan air seperti arus,
dan lain-lain (Odum 1971). Menurut Reynolds (1984), fitoplankton yang hidup di
air tawar terdiri dari tujuh kelompok besar filum, yaitu: Cyanophyta (alga
biru), Cryptophyta, Chlorophyta (alga hijau), Chrysophyta, Pyrrhophyta (dinoflagellates),
Raphydophyta, dan Euglenophyta. Setiap jenis fitoplankton yang berbeda dalam
kelompok filum tersebut mempunyai respon yang berbeda-beda terhadap kondisi
perairan, sehingga komposisi jenis fitoplankton bervariasi dari satu tempat ke
tempat lain (Welch 1952). Menurut Welch (1952), plankton air tawar dibedakan
menjadi limnoplankton dan rheoplankton. Limnoplankton adalah plankton yang
hidup di perairan tergenang, sedangkan rheoplankton adalah plankton yang hidup
di perairan mengalir. Keberadaan plankton di perairan mengalir dipengaruhi oleh
lingkungan sungai yang seringkali komposisinya berubah yang berkaitan dengan pergerakan
air, kekeruhan, suhu, dan nutrien (Hynes 1972). Perkembangan komunitas
fitoplankton sungai dipengaruhi oleh turbulensi aliran dan turbiditas yang
berkaitan dengan partikel tersuspensi (Belcher dan Swale 1979 in Reynolds
1984). Welch (1952) mengungkapkan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi
distribusi kelimpahan fitoplankton dalam suatu perairan adalah arus, kandungan
unsur hara, predator, suhu, kecerahan, kekeruhan, pH, gas-gas terlarut, maupun
kompetitor.(Wijaya, 2009)
1.2.Zooplankton
Zooplankton merupakan
plankton hewani, meskipun terbatas namun mempunyai kemampuan bergerak dengan
cara berenang (migrasi vertikal). Pada siang hari zooplankton bermigrasi ke
bawah menuju dasar perairan. Migrasi dapat disebabkan karena faktor konsumen
atau grazing, yaitu dimana zooplankton mendekati fitoplankton sebagai mangsa,
selain itu migrasi juga terjadi karena pengaruh gerakan angin yang menyebabkan
upwelling atau downwelling (Sumich, 1999).
2. Perifiton
2.1.
Terminologi
Istilah perifiton meskipun digunakan secara
bervariasi, namun lebih ditujukan kepada flora yang tumbuh di atas substrat di
perairan. Menurut Hill dan Webster (1982), perifiton adalah mikroalgae menempel
yang umumnya merupakan sumber energi utama di perairan, sangat melimpah dan
memiliki peranan yang lebih besar dalam menentukan produktivitas primer
dibanding fitoplankton. Round in Wood (1967) menggunakan istilah perifiton
untuk algae yang tumbuh di permukaan substrat buatan (bewuch) atau substrat
alami (aufwuch). Dalam penelitian ini digunakan istilah perifiton menurut
Sheppard et al. (1992), yaitu perifiton merupakan algae mikroskopis yang hidup
menempel pada daun lamun. Berdasarkan tipe substrat tempat menempelnya
perifiton, Wetzel (1982) mengklasifikasikan sebagai berikut:
1)
Epifitik, menempel pada permukaan tumbuhan,
2)
Epipelik, menempel pada permukaan sedimen,
3)
Epilitik, menempel pada permukaan batuan,
4)
Epizooik, menempel pada permukaan hewan,
5)
Epipsammik, hidup dan bergerak diantara butir-butir pasir.
2.2.Struktur
komunitas perifiton
Struktur komunitas
meliputi keanekaragaman jenis, keseragaman, kelimpahan, struktur dan bentuk
pertumbuhan, dominansi dan struktur trofik (Krebs, 1972). Keanekaragaman
menunjukkan keberadaan suatu spesies dalam suatu komunitas di ekosistem.
Semakin tinggi keanekaragaman spesies di suatu komunitas menunjukkan adanya
keseimbangan dalam ekosistem tersebut. Keanekaragaman dipengaruhi oleh adanya
predator dan kemampuan mempertahankan diri dari perubahan kondisi lingkungan.
Keseragaman menunjukkan komposisi individu dari spesies yang terdapat dalam
suatu komunitas, dimana akan terjadi dominasi spesies dalam suatu komunitas bila
keseragaman mendekati minimum dan sebaliknya suatu komunitas akan relatif
mantap apabila keseragaman mendekati maksimum (Brower et al., 1990). Dominansi
menunjukkan ada tidaknya suatu jenis individu yang mendominasi dalam suatu
komunitas, dimana jenis yang mendominasi cenderung mengendalikan komunitas
(Simpson, 1984 in Krebs, 1972). Secara umum struktur komunitas perifiton
terdiri dari algae mikroskopis yang bersifat sessil, satu sel maupun algae
filamen terutama jenis Diatomae, Algae Conjugales, Cyanophyceae,
Euglenophyceae, Xanthophyceae dan Crysophyceae (Kitting, 1984 in Borowitzka dan
Lethbridge, 1989 in Zulkifli, 2000). Struktur komunitas perifiton dari setiap
perairan sangat beragam, namun perifiton yang tumbuh pada berbagai jenis
makrofita di suatu perairan dapat seragam (Prygiel dan Coste, 1993).
2.3.Eksistensi
komunitas perifiton
Perkembangan perifiton
menuju kemantapan komunitasnya sangat ditentukan oleh kemantapan keberadaan
substrat. Substrat dari benda hidup sering bersifat sementara karena adanya
proses pertumbuhan dan kematian. Setiap saat pada substrat hidup akan terjadi
perubahan lingkungan sebagai akibat dari respirasi dan asimilasi, sehingga
mempengaruhi komunitas perifiton. Biomassa perifiton yang terbentuk merupakan
sumber makanan alami biota air yang lebih tinggi yaitu zooplankton, juvenil
udang, moluska dan ikan (Klumpp et al.,1992 in Zulkifli, 2000). Perkembangan
perifiton dapat dipandang sebagai proses akumulasi, yaitu proses peningkatan
biomassa dengan bertambahnya waktu. Akumulasi merupakan hasil kolonialisasi
dengan proses biologi yang menyertainya dan berinteraksi dengan faktor
fisika-kimia perairan (Borowitzka dan Lethbridge, 1989 in Zulkifli, 2000).
Menurut Osborn (1983), proses kolonialisasi merupakan pembentukan koloni perifiton
pada substrat yang berlangsung segera seketika pengkoloni menempel pada
substrat. Tipe substrat sangat menentukan proses kolonialisasi dan komposisi
perifiton, hal ini berkaitan erat dengan kemampuan dan alat penempelnya.
Kemampuan perifiton menempel pada substrat menentukan eksistensinya terhadap
pencucian oleh arus atau gelombang yang dapat memusnahkannya. Untuk menempel
pada substrat, perifiton mempunyai berbagai alat penempel, yaitu:
1)
Rhizoid, seperti pada Oedogonium dan Ulothrix,
2) Tangkai bergelatin panjang atau
pendek, seperti pada Cymbella, Gomphonema dan Achnanthes,
3) Bantalan gelatin berbentuk setengah
bulatan (sphaerical) yang diperkuat dengan kapur atau tidak, seperti pada
Rivularia, Chaetophora dan Ophyrydium.
Komposisi perifiton pada
daun lamun sangat dipengaruhi oleh morfologi, umur dan letak atau tempat hidup
lamunnya. Lamun dengan tipe daun yang besar akan lebih disukai daripada lamun
yang mempunyai daun lebih kecil, karena lamun dengan morfologi yang lebih besar
(kuat) akan mempunyai kondisi substrat yang lebih stabil. Begitu pula dengan
umur lamun, pada lamun yang lebih tua komposisi dan kepadatan perifiton akan
berbeda dengan lamun yang lebih muda karena proses penempelan dan pembentukan
koloni perifiton memerlukan waktu yang cukup lama.(Lamun, Perairan, Besar, Seribu, & Utara, 2008)
3. Hubungan Plankton dan Perifiton
3.1.Sebagai
Oksigen terlarut
sumbangan oksigen
terlarut di perairan mengalir dapat berasal dari fotosintesis perifiton dan
fitoplankton. Besarnya sumbangan oksigen terlarut yang berasal dari
fotosintesis dipengaruhi oleh besarnya intensitas cahaya yang dibutuhkan dalam
proses fotosintesis. Selain itu, banyaknya kelimpahan jenis juga mempengaruhi
besarnya oksigen terlarut yang dihasilkan dalam proses fotosintesis. Oksigen yang dihasilkan dari perifiton, fitoplankton,
dan difusi udara tersebut memberikan sumbangan oksigen terlarut berbeda ke
perairan. Besarnya sumbangan oksigen terlarut tersebut dipengaruhi oleh
berbagai faktor, diantaranya kecepatan arus, kedalaman, sinar matahari, suhu,
dan nutrien yang menentukan kelangsungan hidup bagi organisme autotrof yang
tinggal disana. Sumbangan oksigen terlarut tersebut juga memberikan proporsi
yang berbeda dari masingmasing penyumbang oksigen tersebut pada volume 430L.(Lamun et al., 2008)
3.2.Komunitas
Perifiton dan Fitoplankton
Pryfogle dan Lowe
(1979) in Weitzel (1979) mengemukakan bahwa asosiasi antara fitoplankton dengan
sistem perairan mengalir sering menggambarkan komunitas alga perifitik.
Komunitas perifiton maupun fitoplankton merupakan variabel penting dalam
ekosistem mengalir (Weitzel 1979). Organisme tersebut berperan sebagai
organisme ototrof yang mampu berfotosintesis dengan memanfaatkan senyawa
anorganik menjadi bahan organik serta sebagai penghasil oksigen. Selain itu,
perifiton dan fitoplankton merupakan makanan bagi ikan herbivor dan bentos sehingga
ketersediaannya berpengaruh bagi komunitas pada tingkat trofik di atasnya.
Keberadaannya di lingkungan perairan berkaitan dengan alam atau habitat, faktor
pembatas seperti cahaya, nutrien, grazing, dan substrat (Weitzel 1979).
Menurut Hynes (1972),
pada sungai-sungai tenang atau berarus lambat terdapat mikroorgaisme yang
melayang seperti fitoplankton. Kemampuan fitoplankton untuk bertahan pada
sungai yang tenang tersebut dipengaruhi oleh kondisi lokal, musim hujan, dan
kejadian banjir. Di daerah tropis, komposisi plankton bervariasi antara musim
hujan dan musim kemarau (Holden dan Green 1960 in Hynes 1972). Komunitas
plankton asli diduga terbentuk pada periode air rendah, karena pada perairan
sungai sering terjadi proses pencucian organisme yang disebabkan oleh berbagai
sumber seperti jumlah debit air yang juga dipengaruhi oleh curah hujan. Hynes
(1972) menambahkan bahwa komunitas alga bentik (perifiton) alami memiliki sifat
tidak stabil, karena proses pembentukan komunitas di dalamnya terjadi pada
waktu yang tidak sama. Pada skala waktu pengamatan tertentu, akan didapatkan
perbedaan kelimpahan dan komposisi plankton seiring dengan perubahan-perubahan
yang terjadi pada lingkungan sekitarnya. Pada perairan mengalir dengan
kecepatan arus cukup besar, plankton tidak melimpah. Sebagai konsekuensi, hampir
semua produktivitas primer berasal dari perifiton. Hal tersebut salah satunya
dipengaruhi oleh kandungan nutrien di perairan sehingga keberadaan jenis di
setiap sungai akan berbeda (Welch 1980).
Pada perairan sungai
yang memiliki dukungan nutrien silika yang cukup memadai, keberadaan kelompok
Bacillariophyceae sering mendominasi dengan kelimpahan sangat besar, kecuali
pada sungai berlumpur. Nutrien silica merupakan salah satu unsur yang sangat
dibutuhkan oleh diatom (Bacillariophyceae). Bagi diatom, silika merupakan
pembentuk dinding sel dan dapat mencapai setengah dari berat kering alga
tersebut. Keberadaan silika di sungai dapat berasal dari hancuran batuan,
aliran sungai, dan sedimen (Goldman dan Horne 1983). Hal lain yang merupakan
penyebab terjadinya perbedaan komposisi dan kelimpahan perifiton dan
fitoplankton adalah curah hujan. Tingginya curah hujan dapat mengakibatkan
meningkatnya debit air, sehingga air sungai mengalami pengenceran yang lebih
besar mengakibatkan jumlah jenis dan kelimpahan fitoplankton berkurang karena
hanyut terbawa arus sungai. Tingginya curah hujan juga secara tidak langsung
dapat memungkinkan terjadinya peningkatan nilai kekeruhan dan menurunkan nilai
pH. Kekeruhan yang lebih tinggi dan pH yang menurun di bawah kisaran optimal
mengakibatkan produksi fitoplankton menurun (Supartiwi 2000).(Wijaya, 2009)
BAB
III PENUTUP
Kesimpulan
Plankton
merupakan sekelompok biota akuatik baik berupa tumbuhan maupun hewan yang hidup
melayang maupun terapung secara pasif di permukaan perairan, dan pergerakan serta
penyebarannya dipengaruhi oleh gerakan arus walaupun sangat lemah. Fitoplankton
adalah organisme yang hidup melayang-layang di dalam air, relatif tidak
memiliki daya gerak, sehingga eksistensinya sangat dipengaruhi oleh gerakan air
seperti arus, dan lain-lain (Odum 1971). Menurut Reynolds (1984), fitoplankton
yang hidup di air tawar terdiri dari tujuh kelompok besar filum, yaitu:
Cyanophyta (alga biru), Cryptophyta, Chlorophyta (alga hijau), Chrysophyta,
Pyrrhophyta (dinoflagellates), Raphydophyta, dan Euglenophyta. Sedangkan Istilah
perifiton meskipun digunakan secara bervariasi, namun lebih ditujukan kepada
flora yang tumbuh di atas substrat di perairan. Menurut Hill dan Webster (1982),
perifiton adalah mikroalgae menempel yang umumnya merupakan sumber energi utama
di perairan, sangat melimpah dan memiliki peranan yang lebih besar dalam
menentukan produktivitas primer dibanding fitoplankton. Hubungan fioplankton
dan perifiton Sebagai Oksigen terlarut dan komunitas perifiton dan fitoplankton.sumbangan
oksigen terlarut di perairan mengalir dapat berasal dari fotosintesis perifiton
dan fitoplankton. Besarnya sumbangan oksigen terlarut yang berasal dari
fotosintesis dipengaruhi oleh besarnya intensitas cahaya yang dibutuhkan dalam
proses fotosintesis. Selain itu, banyaknya kelimpahan jenis juga mempengaruhi
besarnya oksigen terlarut yang dihasilkan dalam proses fotosintesis. Pryfogle
dan Lowe (1979) in Weitzel (1979) mengemukakan bahwa asosiasi antara
fitoplankton dengan sistem perairan mengalir sering menggambarkan komunitas
alga perifitik. Komunitas perifiton maupun fitoplankton merupakan variabel
penting dalam ekosistem mengalir (Weitzel 1979).
DAFTAR PUSTAKA
Lamun, P., Perairan, D. I., Besar, T., Seribu, K.,
& Utara, J. (2008). SEBARAN DAN ASOSIASI PERIFITON PADA EKOSISTEM PADANG
LAMUN ( Enhalus acoroides ) DI PERAIRAN PULAU TIDUNG BESAR , KEPULAUAN SERIBU ,
JAKARTA UTARA.
Perairan, D. I., & Panjang, P. (2015).
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/maquares, 4, 99–108.
Wijaya, H. K. (2009). Komunitas Perifiton Dan Fitoplankton Serta Parameter
Fisika-Kimia Perairan Sebagai Penentu Kualitas Air Di Bagian Hulu Sungai
Cisadane , Jawa Barat, 14–20.